Blog

PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS TERHADAP ANAK

December 22, 2021
/
Parenting
PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS TERHADAP ANAK image

Maraknya pelecehan seksual terhadap anak dan remaja tentunya menimbulkan perasaan was-was sebagai orangtua. Mirisnya pelecehan atau kekerasan seksual sering kali dilakukan di tempat-tempat yang seharusnya memberikan perlindungan yang aman. Kekhawatiran sebagai orangtua diikuti oleh pemberitaan tentang ketidakadilan terhadap korban dan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang belum menemukan kesepakatan. Menyadari hal itu, membentengi anak dengan ilmu budipekerti dan ilmu agama pun kerap menjadi langkah awal orangtua untuk melindungi anak-anak yang disayang. Namun berbeda dengan pendidikan seks yang masih dianggap tabu. Padahal, mengenalkan pendidikan seks kepada anak juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Kalau begitu apa sih pentingnya pendidikan seks terhadap anak?

Mengutip dari salah satu talkshow yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tentang “Bagaimana Bicara Seks Kepada Anak?”, dr. Eka Viora, Sp.K.J. mengatakan, “Selama ini, pendidikan seks dianggap tabu dikalangan masyarakat. Mereka berpendapat bahwa pendidikan seks belum pantas diterima oleh anak usia dini, padahal pendidikan seks sangat berpengaruh untuk kehidupan anak ketika remaja. Karena nantinya mereka bisa berhati-hati dengan perlakukan berbahaya yang bisa diterimanya, seperti pelecehan seksual misalnya.” jelasnya.

Sejalan dengan pendapat di atas, pengenalan pendidikan seks kepada anak menjadi sebuah spektrum yang sangat luas. Memaksa kita sebagai orangtua harus banyak menggali informasi tentang pendidikan seksual. Yang harus digaris bawahi adalah, pendidikan seksual bukan hanya tentang ‘melakukan aktifitas’ saja. Tapi ada banyak hal lainnya seperti berikut.

Update artikel lainnya di sini.

 

MENGEDUKASI TENTANG BAGIAN INTIM PADA TUBUH

edukasi seksual

Biasanya anak-anak dalam rentang usia 1-3 tahun mulai memiliki rasa penasaran tentang tubuh mereka. Anak mulai belajar tentang anatomi tubuh, mulai dari mata, hidung, mulut, telinga, dan lainnya. Disaat seperti inilah orangtua harus kreatif memberikan istilah-istilah sederhana yang mudah diingat, memberi tahu fungsi, dan cara merawatnya.

Lanjut pada rentang usia 3-6 tahun orangtua harus lebih kreatif dalam memberi penjelasan tentang tidak semua orang boleh melihat dan memegang tubuh mereka. Yang boleh melihat dan memegang hanya Ibu, Ayah, dan diri mereka sendiri. Itu pun hanya saat mereka membutuhkan bantuan.

 

ANAK MEMAHAMI KONSEP AREA PRIBADI 

anak memahami konsep area pribadi

Memberikan pemahaman tentang tubuh dan area pribadi akan membawa dampak baik dalam waktu jangka panjang. Anak menjadi lebih peduli atas diri mereka sendiri dan tahu resiko apa yang akan mereka dapat apabila tidak menjaganya dengan baik. Hal ini pun secara tidak langsung akan menimbulkan rasa menghargai anak terhadap orang lain.

 

BERANI MELAKUKAN PERLAWANAN DAN MENGUNGKAPKAN APA YANG TELAH TERJADI 

berani melakukan perlamawan saat terjadi penyerangan seksual

Dalam beberapa kasus yang sering menjadi kendala adalah lemahnya pihak korban memberikan perlawanan. Hal ini lagi-lagi didasari oleh minimnya informasi tentang kekerasan seksual. Korban tidak menyadari telah mendapatkan tindak pelecehan oleh lingkungan disekitarnya. Yang pada akhirnya tindakan pelecehan hanya dianggap hal sepele yang tidak perlu dibesar-besarkan. Kenyataannya adalah kecil atau besarnya tindak pelecehan seksual tidak akan pernah dibenarkan dimanapun.

Ketakutan atau trauma yang dialami pun tidak kalah menyulitkan saat kasus akan diusut tuntas. Adanya tekanan dari pihak pelaku terhadap korban, lingkungan tempat tinggal, dan pendekatan yang tidak membuat nyaman membuat korban kekerasan seksual tidak berani mengungkapkan hal yang telah terjadi kepada mereka.

Makanya, pendidikan seksual menjadi hal sangat penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap anak dan keluarga. Membentengi mereka dengan rasa berani untuk melakukan perlawanan pun menjadi hal yang sangat krusial.

 

KEKERASAN SEKSUAL TIDAK HANYA TERJADI PADA PEREMPUAN SAJA 

kekerasan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan saja

Mengutip dari artikel Indonesia Judicial Research Society (IJRS) pada tahun 2020 ada 33% kasus tindakan kekerasan atau pelecehan seksual terhadap laki-laki. Bahkan pada tahun 2018 kasus kekerasan seksual terhadap anak laki-laki (60%) lebih besar daripada anak perempuan (40%).

Tingginya persentase tindak kekerasan atau pelecehan seksual ini tidak berbanding lurus dengan tindakan penyelesaian dari pihak berwajib. Penanganan kasus ini terkesan bertele-tele dan menjadi sangat samar sehingga tidak menemukan jalan keluar yang pasti. Karena hal itu pula, korban-korban lebih memilih untuk bungkam dan mengobati lukanya sendiri.

 

Nah, melihat dari beberapa kasus yang telah diangkat di media masa. Masih menganggap mendidikan seksual itu tabu? Mungkin pihak sekolah tidak akan menjadikan pendidikan seksual sebagai salah satu kurikulum tetap. Tapi sebagai orangtua, kita adalah guru utama dalam segala ilmu kehidupan untuk anak-anak kita. Yuk belajar dan ajarkan si Kecil!