Blog

BERHENTI MENJADI TOXIC PARENTS

April 17, 2021
/
Parenting
BERHENTI MENJADI TOXIC PARENTS image

Setiap anak terlahir dengan berbagai karakter yang berbeda. Bahkan anak yang telahir kembar memiliki perbedaan respon dan emosional yang signifikan jika dihadapkan dengan permasalahan serupa. Anak-anak akan merespon berbagai hal dengan cara yang kadang mengejutkan kita sebagai orangtua. Selain emosi, pola asuh juga berpengaruh pada perkembangan mental dan respon anak-anak. Berhenti menjadi toxic parents sekarang juga! kenapa?

Menurut Hurlock (1999), pola asuh orangtua terhadap anak terbagi menjadi 3 macam, yaitu; pola asuh permissive, pola asuh otoriter, dan pola asuh demokrasi. Namun tahukah Moms, jika kita salah mengambil langkah dalam menerapkan pola asuh terhadap anak maka hal tersebut bisa membuat Moms masuk dalam kategori ‘toxic parents’? 

Dalam ilmu psikologi, toxic parents adalah tipe orangtua yang sangat tidak disukai anak. Karena ciri dari toxic parents adalah orangtua yang cenderung kasar, suka memerintah, dan memaksa anak untuk ikut aturan orangtua tanpa peduli pendapat dan perasaan anak. Orangtua dengan tipe seperti itu tentunya bisa membuat anak merasa tertekan, ketakutan, bahkan bisa mengarah pada stress jangka panjang.

Sekarang, yuk sama-sama ketahui apa saja perilaku atau tindakan yang bisa Moms hindari agar tidak termasuk dalam katergori toxic parents? Berikut beberapa tindakan yang harus Moms hindari!

TIDAK MENGHARGAI PENDAPAT ANAK


Kita mengerti bahwa ada banyak hal di dunia ini yang belum pantas didengar atau dipikirkan oleh anak-anak. Kerap kali kita mencoba melindungi mereka dengan tidak memberikan jawaban pada pertanyaan atau ketidaktahuan mereka. Namun perlu diketahui, anak-anak memiliki pemikiran dan pendapat masing-masing tentang lingkungan mereka. Terkadang secara tidak sengaja, kita membatasi imajinasi mereka. Contohnya, ketika anak sedang mewarnai seekor gajah dengan warna merah dan secara tidak sengaja kita memberikan komentar yang seolah menyalahkan mereka, karena gajah seharusnya berwarna abu-abu.

Disarankan Moms menanyakannya terlebih dahulu, mengapa si gajah berwarna merah? Kadang anak memiliki alasannya sendiri, mungkin di dalam imajinasi mereka si gajah sedang marah dan merah melambangkan kemarahan si gajah. Walaupun simple, bertanya pendapat dan senantiasa mengikut sertakan anak dalam beberapa hal dapat membangun hubungan yang baik dan memberikan rasa percaya diri pada si anak.


MENGOLOK-OLOK ANAK



Ternyata salah satu kebiasaan buruk yang tanpa disadari sering kali kita lakukan sebagai orangtua, adalah mengolok-olok anak dengan dalih ‘bercanda’. Pada rentang usia 8 tahun hingga remaja ada fase dimana anak mengalami perubahan suasana hati secara cepat yang membuat mereka sering salah mengartikan kalimat candaan sebagai bentuk ejekan atau olokan. Dan hal tersebut menjadi sesuatu yang cukup menakutkan jika terus menerus mereka alami. Cobalah untuk menggunakan kalimat yang tidak melukai perasaan anak dan jika terlanjur melakukan hal yang tidak mengenakan (mengolok anak) jangan segan untuk meminta maaf dan beri pengertian kepada mereka.


MELARANG ANAK MENANGIS



Menangis adalah bentuk emosi untuk menetralisir perasaan marah maupun sedih. Sayangnya, kebanyakan dari orangtua melarang anak menangis dengan mengatakan, “jangan menangis, malu dilihat orang!”, “jangan menangis, tandanya kamu cengeng, lemah!” sehingga anak menangkap signal bahwa menangis suatu tindakan yang salah dan tidak boleh dilakukan.

Dr. Reza Fahlevi, Sp.A mengatakan menangis adalah hal yang wajar dan tidak boleh ditahan karena mempengaruhi perkembangan mental anak kedepannya. Menangis bukan sesuatu yang salah. Yuk dari sini, kita bisa sama sama berhenti melarang anak menangis agar mereka bisa melepaskan perasaan sedih dan tertekan.

Namun jangan membiarkan begitu saja ketika anak menangis, karena sama saja artinya dengan mengabaikan emosi anak. Dan anak akan mengartikan bahwa orangtua mereka tidak memperdulikan perasaan yang sedang mereka alami.

MEMARAHI ANAK DI TEMPAT UMUM



Memarahi anak di tempat umum sama saja dengan mempermalukan anak. Hal tersebut dapat menjadi alasan untuk pembentukan karakter yang tidak baik di masa depan. Anak akan merasa tertekan dan kehilangan rasa percaya diri mereka karena ada anggapan mereka akan ditolak dalam setiap keadaan. Mereka akan selalu merasa bahwa semua tindakan yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Sebagian orangtua beranggapan bahwa memarahi anak di tempat umum adalah bentuk kepedulian agar anak memiliki sikap tanggung jawab terhadap tindakan mereka. Namun ternyata hal tersebut tidak pernah berjalan sesuai harapan, yang tersisa hanya luka batin pada anak. Jadi, berhenti memarahi anak di tempat umum.

MEMBANDING-BANDINGKAN ANAK DENGAN ORANG LAIN



Harus percaya bahwa tidak ada satu orang pun di muka bumi ini yang suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Bahkan saat dibandingkan dengan saudara sendiri pun anak akan merasa benci dan memupuk emosi buruk dalam hati mereka. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuan sendiri. Kakak pintar dibidang berhitung, abang pintar dibidang seni, dan adik pintar dibidang olah raga, bukankah jika dilatih dan diberi dukungan untuk kemampuan yang mereka miliki akan menjadi kombinasi yang membanggakan Moms? Biarkan mereka membanggakan kita sebagai orangtua dengan keunikkan, talenta dan cara mereka masing-masing. Sampai kapanpun, mereka tidak akan sama dengan siapapun yang kita anggap baik. Begitu juga sebaliknya, orang yang kita anggap baik, belum tentu lebih baik dari anak kita.

 

Nah, sudah tahukan Moms hal-hal yang harus Moms hindari agar tidak menjadi toxic parents? Yuk berhenti melakukan hal-hal di atas dan bersama-sama mencoba menjadi orangtua yang menyenangkan. Tanamkan bahwa karakter anak terbentuk dari pola asuh yang diterapkan pada lingkungan pertama mereka, yaitu keluarga. Maka dari itu, kita wajib menjaga mental dan emosi anak sedari dini untuk masa depan yang lebih cerah!